beritapolisi shared an article
March 04, 2017 22:00

Menikmati Bakso Beranak Cak Mat Mojokerto

Menikmati Bakso Beranak Cak Mat Mojokerto
  •  

Banyaknya penjual bakso dengan berbagai varian yang ditawarkan, membuat salah satu warga Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini harus memutar otak.

Tak ingin kalah dengan penjual bakso lainnya, iapun bereksperimen membuat bakso yang lain daripada bakso lainnya.

Berawal dari kepulangan adiknya dari merantau di Bali, Cak Mat pun berkolaborasi dengan sang adik yang juga mempunyai panggilan sama Cak Mat membuat bakso. “Saat itu, pingin jualan tapi jualan apa dan kebetulan adik pulang dari Bali jadi kepikiran jualan bakso saja,” ungkapnya, Sabtu (4/3/2017).

Cak Mat menuturkan, sang adik saat di Bali jualan pentol bakar dan kenal baik dengan orang Blitar yang berjualan bakso. Dari kenalannya tersebut, ia diajari membuat bakso. Bahkan, temannya memberikan berbagai perabotan untuk jualan bakso saat mengetahui jika ia ingin pulang jualan bakso.

“Dia kasih mangkok, panci dan berbagai peralatan untuk berjualan bakso. Akhirnya kami sepakat untuk jualan bakso tapi tidak langsung dijual, kami membuat dan minta tolong keluarga dan teman untuk mencoba. Setelah mereka mengatakan enak, kami baru berjualan bakso,” katanya.

Akhirnya, bulan Oktober ia pun berjualan bakso di depan rumahnya. Namun agar mempunyai ciri khas dan tidak sama dengan yang lainnya, ia menciptakan bakso beranak. Pentol dengan porsi besar yang didalamnnya berisi beberapa pentol kecil dan telur puyuh. Ide tersebut tercipta setelah ia melihat bakso di internet.

“Saya mikir saat itu, belum ada bakso beranak di Mojokerto meski di kota lain sudah ada. Karena saya sendiri bosen dengan bakso pada umumnya dan ingin bakso jualan saya punya ciri khas. Ternyata banyak yang suka, satu kali saya posting di facebook di grup kuliner tapi kemudian pelanggan sendiri yang memposting setelah beli disini,” tuturnya.

Menurutnya, pembuatan bakso beranak sama dengan membuat bakso pada umumnya. Namun yang membedakan yakni ukurannya yang besar dan didalamnya berisi beberapa pentol kecil dan telur puyuh. Hampir tiga tahun berjalan, ternyata banyak yang meniru bakso beranak miliknya sehingga ia kembali memutar otak.

“Sejak dua minggu lalu, saya tambah ayam bumbu suwir di dalamnya agar tidak sama dengan yang lain sesuai saran pelanggan. Ternyata banyak yang suka dan pelanggan yang datang juga karena melihat postingan pelanggan lainnya setelah makan disini, saya hanya satu kali posting di grup kuliner facebook,” ujarnya.

Agar pelanggan tidak bosan, iapun membuat menu bakso lainnya. Seperti bakso jumbo, bakso krikil, bakso rawit dan bakso campur. Menurutnya, warungnya buka mulai pukul 08.00 WIB, sedangkan untuk bakso beranak baru ada pukul 10.00 WIB. Harganya mulai Rp5 ribu sampai Rp15 ribu satu porsinya.

“Bakso buatan kami, untuk satu kali jualan. Kami jual sampai habis, jadi fresh. Dulu 2 kg saja tidak habis, pernah sehari cuma ada 3 pembeli tapi sekarang setiap hari habis daging 12-15 kg. Alhamdulilah, yang datang tidak hanya dari Mojokerto tapi luar Mojokerto. Ada dari Jombang, Bojonegoro, Bangil dan Gresik,” tuturnya.

Cak Mat menambahkan, jika para pelanggannya tersebut tahu bakso miliknya dari media sosial (medsos) yang diposting pelanggan lainnya. Tak hanya bisa menikmati bakso beranak di warung tepat didepan SDN Kranggan 5 ini, namun pelanggan juga bisa memesan.

“Kami juga terima pesanan tapi kalau banyak, minimal pesan satu hari sebelumnya. Biasanya mereka mencatat nomor telepon yang ada karena tak jarang jauh-jauh datang kesini tapi sudah habis. Untuk bakso krikil, bakso campur dan bakso jumbo harganya sama Rp5 ribu satu mangkoknya, untuk bakso rawit Rp7 ribu, sedangkan bakso beranak Rp15 ribu,” urainya.

Dengan modal awal Rp6 juta, ia dan keluarganya mengaku sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan untuk biaya kuliah anaknya. Menurutnya, bakso yang ia beri nama ‘Bakso Kampung Cak Mat’ ini adalah usaha keluarga yang dikerjakan bersama-sama.

“Kami pilih nama warung kami, Bakso Kampung Cak Mat karena kebetulan adik saya juga panggilannya Cak Mat dan saya tidak ingin menonjolkan bakso beranaknya saja. Karena pernah saya beri nama Bakso Beranak tapi ada yang jiplak jadi kami putuskan memberi nama Bakso Kampung Cak Mat,” pungkasnya.

  •  
Read More »


Tag :