dodik suwarno shared an article
May 13, 2018 15:49

Ini Respon Warga Ngebrak Terkait Bocornya Gas SPBE

Ini Respon Warga Ngebrak Terkait Bocornya Gas SPBE
KEDIRI. Mediasi antara warga Desa Ngebrak dengan SPBE PT.SHB dilakukan, terkait bocornya gas SPBE pada 16 april lalu, dan mediasi ini diadakan di balai Desa Ngebrak Kecamatan Gampengrejo. Mediasi ini dihadiri Susilo selaku perwakilan dari PT.SHB, Bonar selaku penasehat PT.SHB, Kepala Desa H.Saeroji, Bati Tuud Koramil 04/Ngasem Pelda Santoso dan Babinsa Desa Ngebrak Pelda Sukamto, serta Babinkamtibmas Desa Ngebrak Aipda Harwinto, minggu (13/05/2018)
Pertemuan Sore ini hanya tinggal tunggu jawapan saja, unek-unek sudah disampaikan seminggu yang lalu, sehingga pertemuan kali ini hanya mendengar jawaban saja. Kami warga tidak setuju kalau ada SPBE, karena berdekatan dengan pemukiman warga dan selama 24 tahun lamanya tidak ada komplain, hanya saja setelah terjadi kebocoran 50 kg dan warga merasa ketakutan,” kata Udin selaku perwakilan warga Desa Negbrak.
Ahmadi menambahkan ,”Saya pikir masih banyak problem. Penyebab kebocoran salah satu gagal produk, warga masih trauma. Pada intinya dari warga minta relokasi SPBE dan pihak SPBE bisa mendiskusikan lagi targetnya kapan, bisa disampaikan ke warga.”
Senada apa yang dikatakan Ahmadi, Mashudi mengomentari ,”Dengan berdirinya SPBE di Desa Ngebrak tidak layak ditempatkan dekat pemukiman warga. Aset di Desa Ngebrak kami hilang, karena ada saluran sungai sekarang hilang ditimbun SPBE.”
Lanjutnya ,”Terima kasih kepada perusaahaan yang telah mensosialisasikan kepada kami ,bahwa perusahaan tidak akan menggunakan tabung seperti yang meledak, serta meningkatkan keamanan, namun bagi kami meledaknya tabung gas tidak hanya terjadi karena teknis, namun faktor alam misalkan petir atau gempa bumi. Sehingga dengan berat hati kami menyampaikan ,agar SPBE direlokasi, namun kami mempunyai toleransi tentang SPBE harus pindah, karena semua butuh proses.
Sementara menggapi pernyataan warga, Bonar mengatakan ,”Proses relokasi harus membutuhkan waktu, karena harus menjual aset kami, kemudian mencari tempat baru, mengajukan izin. Kalau di relokasi membutuhkan waktu dan biaya serta memerlukan proses yang panjang. Setelah pertemuan ini ,kami akan mengadakan pertemuan dengan Direksi, bahwa warga minta relokasi.
Hingga berakhirnya pertemuan tersebut, belum ada titik temu antara kedua belah pihak, dikarenakan dari pihak warga tetap bersikukuh menginginkan relokasi SPBE, sedangkan pihak SPBE juga mengingikan perusahaannya tetap eksis di Desa Ngebrak.
Read More »


Tag :